Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

Membela Tauhid atau Sembunyi Dalam Tauhid

Lambang kalimat Tauhid merupakan lambang yang dianggapnya suci oleh sekelompok orang atau golongan. Dalam masyarakat Indonesia fenomena kalimat Tauhid sudah dikenal dimana-mana, bahkan bendera, dan aksesoris-aksesoris sering dijumpai bertuliskan kalimat Tauhid. Generasi muda yang harusnya menjunjung tinggi jiwa Nasionalisme, jusrtu mengibarkan bendera yang tidak seharusnya dikibarkan di Indonesia. Menurut mereka membela kalimat Tauhid adalah bentuk cinta kepada Rasulullah saw. Pada zaman Nabi Muhammad Saw bendera kalimat Tauhid memilliki dua jenis Ar-Rayah (hitam) dan Al-Liwa (putih), keduanya dikenal sebagai bendera Panji. Sementara Ar-Rayah sebagai panji perang berukuran lebih kecil, digunakan saat berperang, dan dipindahtangankan dari kalifah ke panglima atau komando pasukan perang, gunanya untuk sebagai tanda memimpin pasukan dan menakuti musuh dalam keadaan perang. Hanya saja kesalahkaprahan di masa kini membuat orang menyangka Ar-Rayah yang berwarna hitam justru ...

Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim

Salah satu sabda Rasulullah Saw berbunyi (arti) "Sebarkan salam", tujuan Rasulullah adalah untuk memotivasi umatnya agar giat mensyiarkan salam atau doa keselamatan kepada orang lain saat saling bertemu. Di dalam kitab fiqih klasik dijelaskan, mengucapkan salam kepada non muslim hukumnya tidak diperbolehkan alias haram. Bahkan menurut Syaikh Abdullah asy-Syarqawi, sunah hukumnya menarik kembali salamnya jika sudah terlanjur diucapkan dan menurut sebagian ulama yang lain mengatakan wajib dicabut (Hasyiyah as-Syarqawi juz 1/161). Sedangkan menjawab salam dari non muslim hukumnya adalah ditafsil; jika non muslim mengucapkan salam kepada kita menggunakan shighat salam yang benar (Assalamu'alaikum), maka kita boleh menjawabnya dengan salam yang benar (Wa'alaikum salam), dan jika salam dengan shighat as-Samu (yang mempunyai arti mendoakan mati), maka cukup dijawab dengan wa'alaikum (Hasyiyah as-Shawi juz 1/311). Penjelasan diatas bisa dipahami jika...

Jelejah Juang Banser Bentuk Kecintaan Terhadap Perjuangan Pahlawan

Jelajah sekaligus berjuang menghadapi berbagai medan alam yang penuh rintangan, merupakan suatu bentuk semangat juang Banser dalam menghargai dan mengingat kembali jasa perjuangan para pahlawan yang telah memerdekaan Indonesia. Perjuangan tersebut sekaligus memaknai Banser sebagai benteng NKRI. Selain kewajiban membentengi Ulama, banser juga harus bisa multi fungsi, siap untuk menghadapi rintangan dan siap berjuang untuk NKRI. Seperti yang dilakukan oleh Banser Satkorcab Banyumas, Ahad (17/11/2019). Kegiatan Jelajah Juang Banser yang diselenggarakan PC dan Satkoryon Ajibarang diikuti oleh Banser dan Denwatser Banyumas dengan jumlah 38 grup dan masing-masing grup beranggotakan 5 orang. Menurut Toyo selaku ketua Kasatkoryon Ajibarang, mengatakan bahwa tujuan Jelajah Juang Banser adalah untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan di Nusantara. "Dahulu para pahlawan berjalan ribuan kilo melewati berbagai medan alam yang terjal dan sulit untuk berjuang mempertahankan Negara Indone...

Pentingnya Moderasi Beragama di Negara Indonesia

Ilustrasi Moderasi Beragama Moderasi beragama penting, bahkan wajib di terapkan di negara dengan masyarakat yang berbeda-beda suku, bahasa dan budaya. Dengan sikap moderat, maka toleransi dapat dikembangkan untuk mewujudkan kehidupan rukun dan kerja sama yang baik antara pihak atau kelompok yang berbeda-beda. Moderasi beragama adalah cara pandang dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Tempat dengan masyarakat mayoritas dari segi agama, segi bahasa, segi entik, maka jelas terdapat percampuran antara mayoritas dan minoritas, sehingga sikap moderat sangat ditekankan untuk bisa diwujudkan.  Menurut Arskal Salim selaku Direktur PT KAI saat ditemuinya di kantor Jakarta, Jum'at (8/11), mengatakan bahwa di negara-negara yang tadinya aman tentram damai tapi kemudian menjadi pecah timbul perang disana, itu karena ketidak mampuan negara-negara tersebut dalam mengelola perbedaan m...

Kemarau Panjang : MWC NU Kecamatan Gumelar Melaksanakan Shalat Istisqa

Sebagai hamba yang beriman selayaknya kita juga hanya memohon kepada-Nya Allah SWT tentang masalah dan keadaan dimuka bumi yang kita singgahi ini. Saat musim kemarau menghampiri manusia, sebenarnya ini adalah sebuah ujian yang diberikan kepada umat manusia tentang bagaimana menikmati rasa bersyukur dan bersabar. Dalam menyambut Hari Santri 22 Oktober 2019, MWC NU Kecamatan Gumelar mengadakan shalat Istisqa Pada hari Minggu, (22/09/2019) pukul 08.30 WIB, MWC NU Kecamatan Gumelar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan shalat sunnah Istisqo yang bertempat di Lapangan Depok, Gumelar. كصلاته فيكبر في أول الأولى سبعا وأول الثانية خمسا يقينا ويأتي بجميع ما مر ثم Artinya, “Cara shalat istisqa sama seperti cara shalat Id. Seseorang bertakbir sebanyak tujuh kali (di luar takbiratul ihram) pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua. Selebihnya ia mengerjakan semua apa yang sudah ditentukan lalu di sana,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Kar...

Banser Berjuang Bersama NKRI

"Kami Barisan Ansor Serbaguna setia kepada Pancasila dan UUD 1945." seperti itulah bunyai Nawa Prasetya Banser (No. 3). Kalimat diatas sudah ada pada jiwa seorang banser yang pasti membela agama dan cinta terhadap bangsa Indonesia ini, setiap anggota banser berjuang dibawah kibaran bendera NU akan tetapi kita selalu lebih menjujung terlebih dahulu bendera kebangsaan MERAH PUTIH INDONESIA sebagai simbol berani dan suci yang patut kita teladani dari tokoh-tokoh pejuang yang telah mempertahankan kedaulatan NKRI. Hari ini Minggu (25/08/2019) Sedang trending tertulis disitus media sosial Twitter bahwa sedang nomor satu hashtag #BUBARKANBANSER yang dibuat oleh orang-orang sebelah yang sudah pasti tidak ingin adanya BANSER di Negeri Indonesia ini. Perlu kita pikirkan selama ini banyak ancaman dan teror kepada umat islam, terutama umat islam yang benar-benar mengakui NKRI. Semua serangan yang menjatuhkan itu sudah sering kami lawan dan mereka-mereka sering gagal d...

Mengenal Penulis Kitab Safinatun Najah

Penulis kitab safinah adalah seorang ulama besar yang sangat terkemuka yaitu  Syekh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al hadhrami . Beliau adalah seorang ahli fiqh dan tasawwuf yang bermadzhab Syafi'i. Selain itu, beliau adalah seorang pendidik yang dikenal sangat ikhlas dan penyabar, seorang qodhi yang adil dan zuhud kepada dunia, bahkan beliau juga seorang politikus dan pengamat militer negara­-negara Islam. Beliau dilahirkan di desa Dziasbuh, yaitu sebuah desa di daerah Hadramaut Yaman, yang dikenal sebagai pusat lahirnya para ulama besar dalam berbagai bidang ilmu ke­agamaan. Sebagaimana para ulama besar lainnya, Syekh Salim me­mulai pendidikannya dengan bidang Al-Qur'an di bawah peng­awasan ayahandanya yang juga merupakan ulama besar, yaitu Syekh Abdullah bin Sa'ad bin Sumair. Dalam waktu yang singkat Syekh Salim mampu menyelesaikan belajarnya dalam bidang Al-Qur'an tersebut, bahkan beliau meraih hasil yang baik dan prestasi yang tinggi. Beliau juga mempelajar...